Bulan Muharram adalah bulan yang istimewa, menyimpan banyak makna yang
patut ditafakkuri dan ditadabburi. Muharram tidak saja menandai awal
tahun menurut penanggalan Islam, namun di dalamnya juga tersimpan hari
mulia "Asyura" yang mencatat sejarah penting dan senantiasa dikenang dan
diperingati oleh umat beragama samawi.
Bulan Muharram adalah bulan yang istimewa, menyimpan banyak makna
yang patut ditafakkuri dan ditadabburi. Muharram tidak saja menandai
awal tahun menurut penanggalan Islam, namun di dalamnya juga tersimpan
hari mulia "Asyura" yang mencatat sejarah penting dan senantiasa
dikenang dan diperingati oleh umat beragama samawi. Hari Asyura
dikenang sebagai hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Nuh a.s. dari
bencana banjir dan menenggelamkan musuh-musuh-Nya.
Asyura juga
dikenang sebagai hari Allah menyelamatkan Musa a.s. dari kejaran Fir'aun
dan tentaranya. Itulah sebabnya umat Yahudi dan umat Nasrani
mengagungkan hari ini. Nabi Nuh dan Musa diriwayatkan melakukan puasa
pada hari ini sebagai ekpresi syukur kepada Allah atas kemenangan yang
diberikan kepadanya.
Umat Yahudi melakukan puasa pada hari Asyura
dan menjadikannya sebagai hari raya. Konon kaum Quraish di masa
jahiliyah juga melakukan puasa pada hari Asyura dan mereka menjadikannya
hari keramat dimana pada hari itu mereka menjalankan tradisi mengganti
kiswah Ka'bah.
Ketika Rasulullah berhijrah, beliau mendapati
penduduk kota Madinah melakukan puasa pada hari Asyura. Seorang Yahudi
mengatakan kepada Rasulullah bahwa Asyura adalah hari agung dimana Allah
menyelamatkan Bani Israil dari ancaman musuhnya, sehingga Musa berpuasa
pada hari itu, Rasulullah pun menjawab "Aku lebih berhak atas Musa dari
kalian"(Sahihain), lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umatnya
berpuasa.
Pada masa awal Islam, puasa Asyura adalah wajib bagi
setiap muslim hingga turun ayat yang mewajibkan puasa bulan Ramadhan. Di
mata Rasulullah s.a.w. hari Asyura begitu istimewa, beliau senantiasa
melaksanakan puasa pada hari ini dan memerintahkan umatnya berpuasa demi
rasa solidaritasnya kepada saudara seperjuangannya Nuh dan Musa a.s.,
bahkan pada tahun terakhir kehidupan Rasulullah beliau bersabda "Insya
Allah tahun depan saya juga akan berpuasa" (Ashab Sunan) namun ajal
telah menjemput beliau sebelum sempat menyempurnakan tahun itu.
Asyura
bagi umat Islam juga menampilkan kilas balik tragedi Karbala yang telah
merenggut kedua cucu tercinta Rasulullah s.a.w, Hasan r.a. dan Husain
r.a.. Lebih dari itu Karbala adalah tragedi yang menyadarkan kita betapa
anarkisme, kekerasan dan tindakan tidak berperikemanusiaan telah
menjadi noktah hitam sejarah umat Islam yang tidak akan pernah layak
untuk terulang kembali.
Masyarakat kita juga banyak menjalankan
beberapa tradisi beragam berkaitan dengan hari Asyura. Ini menandakan
betapa mengakarnya hari Asyura dalam tradisi dan budaya sebagian
masyarakat kita. Di atas makna dan peristiwa yang terjadi bersamaan
dengan hari Asyura ini, kita disunnahkan untuk mendirikan ritual puasa.
Ada
yang mengatakan puasa dilakukan pada tanggal 9 dan 10 Muharram karena
keduanya pernah dilakukan Rasulullah dan sahabatnya. Namun ada yang
mengatakan bahwa Asyura hanya tanggal 10 Muharram. Puasa yang kita
lakukan, tentunya mempunyai kandungan makna yang cukup mendalam dalam
kehidupan beragama dan bermasyarakat, karena menanamkan kepada kita
nilai-nilai pengorbanan, perjuangan, solidaritas antar umat beragama,
tenggang rasa dan yang terpenting semangat anti kekerasan dan anti
anarkisme dalam setiap langkah upaya dan perjuangan kita.
Semoga puasa Asyura kita diterima Allah dan mampu mencerminkan makna yang terkandung di dalamnya. Wassalam
Sabtu, 17 Desember 2011
Langganan:
Postingan (Atom)


